Model Konseptual Keperawatan Jiwa - Model Perilaku


BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Profesi keperawatan sebagai profesi yang unik dan kompleks. Dalam melaksanakan prakteknya, perawat harus mengacu pada model konsep dan teori keperawatan yang sudah ada. Konsep merupakan suatu ide dimana terdapat suatu kesan yang abstrak yang dapat diorganisir dengan simbol-simbol yang nyata. Sedangkan konsep keperawatan merupakan ide untuk menyusun suatu kerangka konseptual atau model keperawatan. Model konseptual keperawatan merupakan suatu cara untuk memandang situasi dan kondisi pekerjaan yang melibatkan perawat didalamnya.
Model konseptual keperawatan jiwa sebagai usaha-usaha untuk menguraikan fenomena mengenai keperawatan jiwa. Teori keperawatan jiwa digunakan sebagai dasar dalam menyusun suatu model konsep dalam keperawatan dan model konsep keperawatan digunakan dalam menentukan model praktek keperawatan.
Model konseptual keperawatan jiwa terdiri dari beberapa pendekatan salah satunya model prilaku. Model prilaku sebagai suatu proses perubahan tingkah laku sebagai akibat adanaya interaksi antara stimulus dengan respons yang menyebabkan seseorang mempunyai pengalaman baru.

B.       Tujuan Penulisan
1.      Tujuan Umum
Setelah membaca makalah ini, mahasiswa di harapkan mampu memahami model konseptual keperawatan jiwa : model prilaku.
2.      Tujuan Khusus
Setelah membaa makalah ini mahasiswa diharapkan mampu memahami tentang :
a.       Menjelaskan model konseptual keperawatan jiwa
b.      Menjelaskan model perilaku
c.       Mengaplikasikan model perilaku pada keperawatan jiwa




C.      Metode Penulisan
Metode penyusunan makalah ini menggunakan metode deskriftif untuk menyelesaikan makalah ini yaitu dengan mencari sumber-sumber buku yang ada dan literature yang lain.

D.      Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisannya yaitu :
BAB I                           : Pendahuluan yang terdiri atas latar belakang, tujuan penulisan, metode penulisan, dan sistematika  penulisan.
BAB II                          : Tinjauan teoritis yang terdiri dari model konseptual keperawatan jiwa, model perilaku.
BAB  III                       : Kasus terdiri dari aplikasi model perilaku pada keperawatan jiwa
BAB IV                        : Penutup terdiri dari kesimpulan dan saran








BAB II
Tinjauan Teoritis
Model adalah contoh, menyerupai, merupakan pernyataan simbolik tentang fenomena, menggambarkan teori dari skema konseptual melalui penggunaan symbol dan diafragma ( christensen.2009, hal 123 ). Konsep adalah suatu keyakinan yang kompleks terhadap suatu obyek, benda, suatu peristiwa atau fenomena berdasarkan pengalaman dan persepsi seseorang berupa ide, pandangan atau keyakinan. Model konsep adalah rangkaian konstruksi yang sangat abstrak dan berkaitan yang menjelaskan secara luas fenomena-fenomena, mengekspresikan asumsi dan mencerminkan masalah. ( christensen.2009, hal 29 )
Teori adalah hubungan beberapa konsep atau suatu kerangka konsep atau definisi yang memberikan suatu pandangan sistematis terhadap gejala-gejala atau fenomena –fenomena dengan menentukan hubungan spesifik antara konsep tersebut dengan maksud untuk menguraikan, menerangkan, meramalkan dan atau mengendalikan suatu fenomena. Teori dapat diuji, diubah atau digunakan sebagai suatu pedoman dalam penelitian. ( christensen.2009, hal 26 )
Model konseptual keperawatan merupakan suatu cara untuk memandang situasi dan kondisi pekerjaan yang melibatkan perawat di dalamnya. Model konseptual keperawatan memperlihatkan petunjuk bagi organisasi dimana perawat mendapatkan informasi agar mereka peka terhadap apa yang terjadi pada suatu saat dengan apa yang terjadi pada suatu saat juga dan tahu apa yang harus perawat kerjakan. Konsep keperawatan terus dikembangkan dan diterapkan serta diuji melalui pendidikan dan praktik keperawatan ( christensen.2009, hal 29 ). Tujuan dari model konseptual keperawatan ( christensen.2009, hal 33 )  :
1.    Menjaga konsisten asuhan keperawatan.
2.    Mengurangi konflik, tumpang tindih, dan kekosongan pelaksanaan asuhan keperawatan oleh tim keperawatan.
3.    Menciptakan kemandirian dalam memberikan asuhan keperawatan.
4.    Memberikan pedoman dalam menentukan kebijaksanaan dan keputusan.
5.    Menjelaskan dengan tegas ruang lingkup dan tujuan asuhan keperawatan bagi setiap anggota tim keperawatan.
Keperawatan jiwa adalah proses interpersonal yang berupaya meningkatkan dan mempertahankan perilaku paien yang berperan pada fungsi yang terintegrasi. Sistem pasien atau klien dapat berupa individu, keluarga, kelompok, organisasi, atau komunitas. American nurses’ association mendefinisikan keperawatan kesehatan jiwa sebagai suatu bidang spesialisasi praktik keperawatan yang menerapkan teori perilaku manusia sebaai ilmunya dan penggunaan diri yang bermanfaat sebagai kiatnya ( Stuart. 2007, hal. 2 ).
B.     Model Perilaku
Menurut  konsep model ini, kelainan jiwa seseorang bisa muncul jika hubungan antara stimulus dan respons tidak  terkondisikan dengan baik oleh seorang individu sehingga menimbulkan kecemasan yang selanjutnya dapat menyebabkan gangguan jiwa. Behaviorism sebagai ilmu psikologi timbul dari rcaksi terhadap model introspeksi yang berfokus pada isi dan opcrasi pikiran. Behaviorismadalah ilmu psikologi yang berfokus pada perilaku yang dapat diamati dan apa yang dapat dilakukan individu secara eksternal untuk mengubah perilaku. Ilmu ini tidtak berupaya menjelaskan cara kerja pikiran ( videbeck.2008 hal 66 ).
Para ahli behaviorismyakin bahwa perilaku dapat diubah oleh sisteni pujian dan hukuman. Untuk individu dewasa, menerima gaji secara teratur merupakan umpan balik positif yang konstan. Gaji merupakan umpan balik positif yang kontinu dan merupakan salah satu alasan individu terus bekerja setiap hari dan berupaya melaksanakan tugas de- ngan baik. Gaji ini membantu memotivasi perilaku positif di tempat kerja. Apabila seseorang tidak menerima gaji, ia kemungkinan besar berhenti bekerja ( videbeck. 2008 hal 66 ).
Apabila seorang pengendara motor terus- menerus mengebut (perilaku negatif dan tidak pernah tertangkap, ia cenderung terus mengebut. Apabila pengendara tersebut ditilang (umpan balik negatiO, ia cenderung mengurangi kecepatan motor- nya. Akan tetapi, jika pengendara tersebut tidak ditangkap karena mengebut selama empat minggu berikutnya (umpan balik negatif dihilangkan), ia cenderung kembali mengebut ( videbeck. 2008 hal 66 ).
1.      Edward Lee Thorndike (1874 - 1949)
Menurut Thorndike, belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R). ( videbeck, 2008 hal 66 )
a         Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk bereaksi atau berbuat.
b        Respon adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang.
Eksperimen kucing lapar yang dimasukkan dalam sangkar (puzzle box) diketahui bahwa supaya tercapai hubungan antara stimulus dan respons, perlu adanya kemampuan untuk memilih respons yang tepat serta melalui usaha-usaha atau percobaan-percobaan (trials) dan kegagalan-kegagalan (error) terlebih dahulu. Bentuk paling dasar dari belajar adalah “trial and error learning atau selecting and connecting lerning” dan berlangsung menurut hukum-hukum tertentu. Oleh karena itu teori belajar yang dikemukakan oleh Thorndike ini sering disebut dengan teori belajar koneksionisme atau teori asosiasi. Thorndike mengemukakan bahwa terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon ini mengikuti hukum-hukum berikut ( videbeck. 2008, hal 66 ) :
a         Hukum kesiapan (law of readiness), yaitu semakin siap suatu organisme memperoleh suatu perubahan tingkah laku, maka pelaksanaan tingkah laku tersebut akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi cenderung diperkuat.
b        Hukum latihan (law of exercise), yaitu semakin sering suatu tingkah laku diulang/dilatih (digunakan), maka asosiasi tersebut akan semakin kuat.
c         Hukum akibat (law of effect), yaitu hubungan stimulus respon cenderung diperkuat bila akibatnya menyenangkan dan cenderung diperlemah jika akibatnya tidak memuaskan.
Selanjutnya Thorndike menambahkan hukum tambahan sebagai berikut ( videbeck. 2008 hal 67 ):
a         Hukum Reaksi Bervariasi (Multiple Response). Hukum ini mengatakan bahwa pada individu diawali oleh proses trial dan error yang menunjukkan adanya bermacam-macam respon sebelum memperoleh respon yang tepat dalam memecahkan masalah yang dihadapi.
b        Hukum Sikap (Set/Attitude). Hukum ini menjelaskan bahwa perilaku belajar seseorang tidak hanya ditentukan oleh hubungan stimulus dengan respon saja, tetapi juga ditentukan keadaan yang ada dalam diri individu baik kognitif, emosi, sosial, maupun psikomotornya.
c         Hukum Aktivitas Berat Sebelah (Prepotency of Element), Hukum ini mengatakan bahwa individu dalam proses belajar memberikan respon hanya pada stimulus tertentu saja sesuai dengan persepsinya terhadap keseluruhan situasi (respon selektif).
d        Hukum Respon by Analogy. Hukum ini mengatakan bahwa individu dapat melakukan respon pada situasi yang belum pernah dialami karena individu sesungguhnya dapat menghubungkan situasi yang belum pernah dialami dengan situasi lama yang pernah dialami sehingga terjadi transfer atau perpindahan unsur-unsur yang telah dikenal ke situasi baru. Makin banyak unsur yang sama/identik, maka transfer akan makin mudah.
e         Hukum perpindahan asosiasi (Associative Shifting). Hukum ini mengatakan bahwa proses peralihan dari situasi yang dikenal ke situasi yang belum dikenal dilakukan secara tertahap dengan cara menambahkan sedikit demi sedikit unsur baru dan membuang sedikit demi sedikit unsur lama.
Thorndike mengemukakan revisi hukum belajar antara lain ( videbeck. 2008 67 ):
a         Hukum latihan ditinggalkan karena ditemukan pengulangan, saja tidak cukup untuk memperkuat hubungan stimulus respon, sebaliknya tanpa pengulanganpun hubungan stimulus respon belum tentu diperlemah.
b        Hukum akibat direvisi. Dikatakan oleh Thorndike bahwa yang berakibat positif untuk perubahan tingkah laku adalah hadiah, sedangkan hukuman tidak berakibat apa-apa.
c         Syarat utama terjadinya hubungan stimulus respon bukan kedekatan, tetapi adanya saling sesuai antara stimulus dan respon.
d        Akibat suatu perbuatan dapat menular (spread of effect) baik pada bidang lain maupun pada individu lain.
2.      Ivan Petrovich Pavlov (1849 - 1936)
Classic Conditioning (pengkondisian atau persyaratan klasik) adalah proses yang ditemukan Pavlov melalui percobaannya terhadap anjing, di mana perangsang asli dan netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi yang diinginkan. Urutan kejadian melalui percobaan terhadap anjing ( cheney. 2004, hal 11 ):
a         US (unconditioned stimulus) = stimulus asli atau netral: Stimulus tidak dikondisikan yaitu stimulus yang langsung menimbulkan respon, misalnya daging dapat merangsang anjing untuk mengeluarkan air liur.
b        UR (unconditioned respons): disebut perilaku responden (respondent behavior) respon tak bersyarat, yaitu respon yang muncul dengan hadirnya US, yaitu air liur anjing keluar karen anjing melihat daging.
c         CS (conditioning stimulus): stimulus bersyarat, yaitu stimulus yang tidak dapat langsung menimbulkan respon. Agar dapat menimbulkan respon perlu dipasangkan dengan US secara terus-menerus agar menimbulkan respon. Misalnya bunyi bel akan menyebabkan anjing mengeluarkan air liur jika selalu dipasangkan dengan daging.
d        CR (conditioning respons): respons bersyarat, yaitu rerspon yang muncul dengan hadirnya CS, Misalnya: air liur anjing keluar karena anjing mendengar bel.
Dari eksperimen Pavlov setelah pengkondisian atau pembiasan dapat diketahui bahwa daging yang menjadi stimulus alami (UCS = Unconditional Stimulus = Stimulus yang tidak dikondisikan) dapat digantikan oleh bunyi lonceng sebagai stimulus yang dikondisikan (CS = Conditional Stimulus = Stimulus yang dikondisikan). Ketika lonceng dibunyikan ternyata air liur anjing keluar sebagai respon yang dikondisikan. Dengan menerapkan strategi Pavlov ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya (cheney. 2004, hal 11 ).
3.      Burrhus Frederic Skinner (1904 - 1990)
Manajemen kelas menurut Skinner adalah berupa usaha untuk memodifikasi perilaku (behavior modification) antara lain dengan proses penguatan (reinforcement) yaitu memberi penghargaan pada perilaku yang diinginkan dan tidak memberi imbalan apapun pada perilaku yang tidak tepat. ( Rantus. 2011, hal 200 )
Operant Conditioning atau pengkondisian operan adalah suatu proses penguatan perilaku operasn (penguatan positif atau negatif) yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang kembali atau menghilang sesuai dengan keinginan. ( Rantus. 2011, hal 200 )
Perilaku operan adalah perilaku yang dipancarkan secara spontan dan bebas Skinner membuat eksperiment sebagai berikut: dalam laboratorium. Skinner memasukkan tikus yang telah dilaparkan dalam kotak yang disebut”Skinner box”, yang sudah dilengkapi dengan berbagai peralatan, yaitu tombol, alat pembeli makanan, penampung makanan, lampu yang dapat diatur nyalanya, dan lantai yang dapat dialiri listrik. ( Rantus. 2011, hal 200 )
Karena dorongan lapar (hunger drive), tikus berusaha keluar untuk mencari makanan. Selama tikus bergerak kesana kemari untuk keluar dari box, tidak sengaja ia menekan tombol, makanan keluar. Secara terjadwal diberikan makanan secara bertahap sesuai peningkatan perilaku yang ditunjukkan si tikus, proses ini disebut shaping. ( Rantus. 2011, hal 201 )
Yang terpenting dalam  belajar adalah penguatan (reinforcement). Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus respon akan semakin kuat bila diberi penguatan. Skinner membagi penguatan ini menjadi dua, yaitu penguatan positif dan penguatan negatif. Penguatan positif sebagai stimulus, dapat meningkatkan terjadinya pengulangan tingkah laku itu sedangkan penguatan negatif dapat mengakibatkan perilaku berkurang atau menghilang. ( Rantus. 2011, hal 201 )
Bentuk-bentuk penguatan positif adalah berupa hadiah (permen, kado, makanan, dan lain-lain), perilaku (senyum, menganggukkan kepala untuk menyetujuim bertepuk tangan, mengacungkan jempol), atau penghargaan (nilai A, juara 1 dan sebagainya). ( Rantus. 2011, hal 201 )
Bentuk-bentuk penguatan negatif antara lain: menunda / tidak memberi penghargaan, memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang (menggeleng, kening berkerut, muka kecewa dan lain-lain). ( Rantus. 2011, hal 201 )
Beberapa prinsip belajar Skinner antara lain: ( Rantus. 2011, hal 202 )
a         Hasil belajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan, jika benar diberi penguat.
b        Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.
c         Materi pelajaran, digunakan sistem modul.
d        Dalam proses pembelajaran, lebih dipentingkan aktivitas sendiri.
e         Dalam proses pembelajaran, tidak digunakan hukuman. Untuk ini lingkungan perlu diubah, untuk menghindari adanya hukuman.
f         Tingkah laku yang diinginkan pendidik, diberi hadiah, dan sebaiknya hadiah diberikan dengan digunakannya jadwalvariable rasio reinforcer.
g        Dalam pembelajaran, digunakan shaping.
Beberapa kekeliruan dalam penerapan teori, Skinner adalah penggunaan hukuman sebagai salah satu cara untuk mendiskripsikan siswa menurut Skinner hukuman yang baik adalah anak merasakan sendiri konsekuensi dari perbuatannya misalnya anak perlu mengalami sendiri kesalahan dan merasakan akibat dari kesalahan. Penggunaan hukuman verba maupun fisik seperti : kata-kata kasar, ejekan, cubitan, jeweran justru berakibat buruk pada siswa. ( Rantus. 2011, hal 202 )
Selain itu kesalahan dalam reinforcement positif juga terjadi di dalam situasi pendidikan seperti penggunaan rangking juara di kelas yang mengharuskan anak menguasai semua mata pelajaran. Sebaliknya setiap anak diberi penguatan sesuai dengan kemampun yang diperlihatkan sehingga dalam satu kelas terdapat banyak penghargaan sesuai dengan prestasi yang ditunjukkan para siswa; misalnya: penghargaan di bidang bahasa, matematika, fisika, menyanyi, menari, atau olahraga. ( Rantus. 2011, hal 200 )

C.     Aplikasi Model Perilaku
1.      Pandangan tentang penyimpangan perilaku
Perilaku dipelajari. Penyimpangan terjadi karena manusia telah membentuk kebiasaan perilaku yang tidak diinginkan. Karena perilaku dapat dipelajari, maka perilaku juga tidak dipelajari. Perilaku menyimpang terjadi berulang karena berguna untuk mengurangi ansietas. Jika demikian, perilaku yang lain dapat mengurangi ansietas dapat dipakai sebagai pengganti.
2.      Indikasi model Perilaku
Indikasi utama ialah gangguan fobik dan perilaku kompulsif, disfungsi sexual (misalnya impotensi dan frigiditas) dan deviasi sexual (misalnya exhibisionisme). Dapat dicoba pada pikiran-pikiran obsesif, gangguan kebiasaan atau pengawasan impuls (misalnya gagap, enuresis, dan berjudio secara kompulsif), gangguan nafsu makan (obesitas dan anorexia) dan reaksi konversi. Terapi perilaku tidak berguna pada skizofrenia akut, depresi yang hebat dan (hipo) mania
3.      Proses terapeutik
Terapi merupakan proses pendidikan. Penyimpangan perilaku tidak dihargai. Perilaku yang lebih produktif dikuatkan. Terapi relaksasi dan latihan keasertifan merupakan pendekatan perilaku.
4.      Peran pasien dan terapis
Pasien. Mempraktekan teknik perilaku yang digunakan. Mengerjakan pekerjaan rumah dan penggalakan latihan. Pasien membantu mengembangkan hierarki perilaku.
Terapis. Mengajar pasien tentang pendekatan perilaku, membantu mengembangkan hierarki perilaku, dan menguatkan perilaku yang diinginkan.


BAB III
KASUS
A.    Kasus
Klien bernama surya dengan umur 18 tahun. Mahasiswa yang nakal, susah ditegur dan sering mendapatkan masalah disekolah. akibatnya masalah sekolahnya terganggu, karena tugas – tugas kuliah tidak pernah dikerjakan. masalah yang paling utama adalah dia sering tidak masuk kuliah karena tidak mau  mengikuti  ujian, pada saat dikelas dia selalu diam dan suka melawan dosen serta mengganggu teman.
B.     Analisa Masalah
Pada saat ditanya kepada klien, rupanya klien kecewa kepada salah satu dosen yang sepertinya tidak menyukainya selain itu klien memiliki masalah keluarga dikarenakan orang tua klien yang tidak pernah perduli dengan masalah klien. Tapi setelah  melihat akibat dari apa yang telah dilakukannya seperti kuliahnya yang terbengkalai, klien merasa menyesal dan ingin berubah.
1.      Thorndike
Pertama kita akan  menggunakan hukum kesiapan yaitu dengan cara melihat apakah individu tersebut siap berubah, dan setelah itu menggunakan hukum latihan yaitu hukum yang melatih perilaku yang baik agar asosiasi semakin kuat setelah dengan menggunakan hukum akibat yaitu apakah hasil dari latihan tersebut memuaskan atau tidak. Jika memuaskan akan membuat stimulus dan respons yang semakin kuat.
a         Hukum kesiapan
Pertama – tama perawat perlu mengetahui secara mendalam ( inquiry ) bahwa klien benar – benar ingin berubah. Kemudian barulah kita memberikan tugas berupa hukuman kepada klien untuk mengerjakan tugas kuliahnya yang telah dia tinggalkan, dan memberikan laporan kepada perawatnya. setelah kien berhasil mengerjakan hukuman atau tugas dari perawat barulah kita ketahap yang kedua.
b        Hukum latihan
Yang harus dilakukan perawatdalam tahap ini adalah memberikan sebuah solusi kepada klien berupa tugas atau hukuman  yang diberikan perawat kepada klien tapi dengan latihan yang berulang – ulang. Perawat memberikan hukuman kepada klien agar klien berpartisipasi dalam segala kegiatan kuliah dari inroom ( seperti diskusi kelompok, bimbingan belajar, dll ) maupun outroom ( seperti pengabdian masyarakat, kegiatan ekskull )
c         Hukum akibat
Setelah tahap kedua dilewati, kemudian masuklah ketahap yang ketiga. Dalam tahap ini perawat tidak perlu memberikan tugas atau hukuman kepada klien tetapi perawat perlu mengetahui apa respons pasien setelah melakukan hukum latihan apakah memuaskan atau tidak memuaskan, sehingga keputusan berubah kita letakkan kepada klien.
2.      Pavlov
Dengan memberikan stimulus yang netral ditambah dengan stimulus yang tidak netral sehingga menimbulkan respons yang bersyarat.
Pertama yang harus kita lakukan adalah memberikan suatu solusi kepada klien dengan cara memberikan sebuah stimulus yang dikondisikan sehingga menghasilkan respon yang terkondisikan. Dengan cara memberikan pasien sebuah penyelesaian masalah ( stimulus ) sehingga menghasilka perilaku yang positif ( respons ). Kita memberikan sebuah syarat yang perlu pasien lakukan jika klien ingin berubah  syarat pertama klien harus aktif dalam perkuliahan dan selalu masuk kuliah, kedua klien harus mulai berkomunikasikan kepada orang tuanya segala keluhan dan apa yang klien inginkan dari orang tua, syarat ketiga klien harus mematuhi segala peraturan yang terdapat di kampus, syarat yang  ketiga klien harus mengerjakan tugas perkuliahan, syarat keempat klien harus melaporkan kepada perawat apa yang klien rasakan setiap harinya dengan cara mobile dan/dengan saksi dari dosen serta orang tua. Kemudian perawat harus melihat respons dari syarat – syarat tersebut.
3.      Skinner
Menurut Skinner (J.W. Santrock, 272) unsur yang terpenting dalam belajar adalah adanya penguatan (reinforcement ) dan hukuman (punishment). Penguatan dan Hukuman. Penguatan (reinforcement) adalah konsekuensi yang meningkatkan probabilitas bahwa suatu perilaku akan terjadi. Sebaliknya, hukuman (punishment) adalah konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku.
Yang harus dilakukan perawat dalam model ini adalah perawat memberikan penguatan kepada klien. Dengan cara perawat berkerjasama dengan orangtua agar memberikan sebuah hadiah kepada klien jika klien berubah. Hadiah dapat berupa benda ataupun perhatian  yang lebih jika dia dapat berubah.






BAB IV
Penutup
A.    Kesimpulan
Model konseptual keperawatan memiliki fungsi sebagai rancangan  pedekatan penyelesaian masalah keperawatan. Rancanga tentunya adalah rencana kerja yang berfungsi sebagai gambaran kepada perawat untuk menyelesaikan masalah keperawatan.
Model konseptual keperawan jiwa digunakan  perawatan sebagai senjata dasar dala menyelesaikan masalah gangguan kesehatan jiwa. Model konseptual keperawatan jiwa menggambarakan bagaimana seseorang perawat dapat menyelesaikan sebuah masalah keperawatan mempunyai kerangka konsep yang profesional.
Salah satunya adalah model konseptual perilaku yang menyelesaikan masalah keperawatan jiwa dengan melihat interaksi antara stimulus dan respon yang berasosiasi dengan baik.
B.     Saran
1.      Perawat dalam menyelesaikan masalah keperawatan jiwa dengan model perilaku yang harus diperhatikan terfokus pada bagaimana hubungan stimulus dan respon dari individu sehingga perawat bisa mencegah  terjadinya kecemasan yang mengakibatkan gangguan jiwa pada individu.
2.      Pendidikan keperawatan : dalan pengajaran model perilaku harus memberikan penjelasan dan gambaran metode ini sehingga para mahasiswa perawat dapat mengerti konsep dasarnya.